MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

POLITIK

05 Mei 2020,    19:31 WIB

Virus Corona Bangkitkan Rasisme Terhadap Warga Keturunan Asia di Australia


Redaksi

Virus Corona Bangkitkan Rasisme Terhadap Warga Keturunan Asia di Australia

MINNEWS - Australia - Pemerintah Australia meminta warganya untuk melaporkan tindakan rasis atau kekerasan kepada warga keturunan China. 

 

Sejak pandemi virus Covid-19 berlangsung, warga Australia keturunan Asia dilaporkan telah mengalami sejumlah penyerangan, dalam bentuk fisik atau verbal, termasuk menerima ancaman kematian dan perusakan terhadap rumah mereka.

 

Menteri Imigrasi Australia, Alan Tudge mengatakan aksi perusakan rumah warga keturunan China di Melbourne sebagai tindakan 'memalukan' dan 'pengecut'.

 

Melihat aksi tersebut, ia mengatakan 99,9% warga Australia berpihak dan mendukung warga keturunan Asia di Australia.

 

"Saya mengajak masyarakat Australia untuk menegur tindakan rasis kalau menyaksikan. Hentikan orang yang coba melakukannya. Jangan membiarkan tindakan itu terjadi, memberikan teguran menjadi tanggung jawab kita bersama."

 

Pesan yang sama telah disampaikan sejumlah politikus Australia, termasuk Menteri Hukum dan Kesehatan Mental di Kawasan Ibukota Australia (ACT), Shane Rattenbury, yang baru-baru ini mendorong warga Canberra untuk menegur pelaku tindakan rasis bila memungkinkan.

 

Menurut laporan yang diterima Komisioner Diskriminasi di Komisi Hak Asasi Manusia ACT, Karen Toohey, insiden rasis terutama meningkat di kalangan pekerja kesehatan dan karyawan retail, sejak Maret lalu.

Kenyataan ini tidak diragukan lagi oleh ketua Komisi Multikultural Victoria, Vivienne Nguyen, yang mengatakan tindakan rasis tidak terbatas dalam kata-kata.

 

"Tindakan rasis yang dilakukan tidak mesti diucapkan, tapi juga dapat dilakukan melalui pandangan sekilas, gestur memutar bola mata, dan bisikan. Ini sudah tidak diragukan lagi."

 

Vivienne menyayangkan angka pelaporan tindakan rasis yang sangat rendah. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan seputar proses hukum atau kekhawatiran tidak adanya bukti yang dimiliki korban.

 

"Anggota komunitas Asia merasa tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Karena itu, mereka tidak dapat melakukan apa-apa selain menceritakan perasaan dan pengalaman mereka kepada teman atau melalui unggahan di media sosial."(Juan)