MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

POLITIK

14 Februari 2026,    12:38 WIB

Peringati Hari Lahir PSI Lama, PSI Tegaskan Komitmen Lanjutkan Gagasan Sutan Sjahrir


Fathan

Peringati Hari Lahir PSI Lama, PSI Tegaskan Komitmen Lanjutkan Gagasan Sutan Sjahrir

istimewa

Jakarta-Mediaindonesianews.com: Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan komitmennya melanjutkan cita-cita perjuangan Sutan Sjahrir melalui penguatan politik kader dan pemberdayaan anak muda. Penegasan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertema “Sjahrir dan Politik Orang Muda” yang digelar di Kantor DPW PSI Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (14/2).

Diskusi ini diselenggarakan untuk memperingati berdirinya Partai Sosialis Indonesia yang dahulu dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Hadir sebagai pembicara Jurnalis Historia Hendri Isnaeni, Peneliti Politik Muhammad Fajar, dan Ketua Bidang OKK DPW PSI Jakarta Allya Natasya Aurora.

Dalam paparannya, Hendri Isnaeni menjelaskan bahwa Sjahrir dikenal sebagai tokoh yang konsisten menolak fasisme dan bersikap kritis terhadap kedekatan Soekarno dengan Jepang pada masa pendudukan. Berbeda dengan Amir Sjarifuddin yang dikenal menggunakan pendekatan perlawanan keras, Sjahrir lebih mengedepankan pendidikan politik dan kursus kader sebagai strategi perjuangan.

Menurut Hendri, PSI pada masa itu melahirkan sejumlah tokoh intelektual, termasuk Soemitro Djojohadikoesomo yang pernah menjabat menteri di era demokrasi liberal. Namun, ia juga menilai PSI memiliki kelemahan karena bersifat kader tertutup dan kurang mampu memperluas basis massa.

“PSI dikenal sebagai partai intelektual yang kuat dalam gagasan, tetapi kurang menarik kader baru karena terlalu eksklusif,” ujarnya.

Peneliti politik Muhammad Fajar menilai problem serupa masih dihadapi partai-partai progresif saat ini, termasuk PSI. Berdasarkan risetnya, sekitar 60 persen aktivis progresif terpusat di Pulau Jawa sehingga kesulitan membangun basis nasional yang kuat. Ia mencontohkan partai seperti PKS dan Golkar yang memiliki jaringan kampus luas sebagai model mobilisasi politik.

“Kampus menjadi ruang strategis mobilisasi karena mahasiswa memiliki waktu dan energi. Ini peluang yang bisa dimanfaatkan organisasi progresif,” kata Fajar.

Menanggapi hal itu, Allya Natasya Aurora menegaskan PSI akan membangun model partai kader yang tumbuh melalui pendidikan politik, sebagaimana yang dicita-citakan Sjahrir. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan PSI DKI Jakarta adalah membuka program magang bagi mahasiswa untuk belajar langsung menjadi pengurus partai.

Allya juga menyoroti masih kuatnya dominasi generasi tua dalam politik nasional yang membuat anak muda merasa teralienasi dari proses pengambilan keputusan. Ia menilai PSI hadir sebagai ruang alternatif bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam politik.

“Banyak anak muda merasa tidak dilibatkan. PSI ingin menjadi wadah partisipasi mereka,” ujarnya.

Selain itu, PSI DKI Jakarta mendorong transparansi anggaran publik dan penghapusan praktik feodalisme modern seperti pungutan liar serta budaya asal bapak senang (ABS) di lingkungan birokrasi dan dunia kerja.

Melalui diskusi ini, PSI menegaskan upayanya menghidupkan kembali semangat politik pendidikan ala Sjahrir dengan pendekatan kaderisasi, transparansi, dan pemberdayaan generasi muda di tengah dinamika politik kontemporer. (FF)