MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

OPINI

08 November 2025,    18:35 WIB

OEF dan Perang Digital: Jalan Tengah antara Pertahanan, Fiskal, dan Ketahanan Pangan


Tim Red

OEF dan Perang Digital: Jalan Tengah antara Pertahanan, Fiskal, dan Ketahanan Pangan

Komjen Pol (P) Drs. Didi Widayadi, MBA

Oleh: Komjen Pol (Purn.) Drs. Didi Widayadi, MBA 

Mediaindonesianews.com: Indonesia memasuki era perang baru—bukan sekadar di medan tempur, tetapi di ruang data, algoritma, dan persepsi publik. Karena itu, kebijakan pembangunan Optimum Essential Force (OEF) oleh TNI AD hingga 2029 patut dibaca bukan sebagai ambisi memperbanyak pasukan, melainkan strategi membangun kecerdasan pertahanan nasional yang relevan di tengah krisis fiskal dan tantangan global.

Paradigma Baru Pertahanan

Konsep OEF menekankan efisiensi dan efektivitas. Fokusnya bukan berapa banyak batalyon dibentuk, melainkan seberapa tangguh dan cepat sistem pertahanan merespons ancaman multidimensi: siber, ruang angkasa, informasi, dan pangan.

Dalam konteks perang berbasis AI, yang dibutuhkan adalah “mata, otak, dan gigi digital”: sistem C4ISR, drone dan anti-drone, komando siber, serta kemampuan perang elektronik yang terintegrasi.

Krisis Fiskal dan Prioritas Baru

Kondisi keuangan negara tidak memungkinkan ekspansi militer konvensional besar-besaran. Setiap rupiah pertahanan harus bernilai strategis. Karena itu, arah OEF sebaiknya beralih dari manpower-heavy ke tech-intensive:

Pendekatan ini akan membuat OEF bukan sekadar proyek militer, tetapi investasi nasional yang menopang stabilitas fiskal, pangan, dan energi.

Ketahanan Pangan dan Peran TNI-AD

Keterlibatan batalyon teritorial (YTP) dalam ketahanan pangan perlu ditempatkan secara proporsional. TNI bukan operator ekonomi, melainkan penopang stabilitas. Fungsi YTP bisa diarahkan pada pengamanan distribusi, mitigasi bencana, dan dukungan logistik di daerah terpencil.

TNI dapat menjadi katalis pemberdayaan lokal tanpa menggeser peran kementerian dan petani. Ini penting agar supremasi sipil tetap terjaga dan pembangunan ekonomi tidak termiliterisasi.

Profesionalisme dan Perang Digital

Masa depan perang adalah digital warfare. Profesionalisme militer kini ditentukan oleh kecakapan analitik dan kecepatan pengambilan keputusan berbasis data. Langkah ke depan:

Dengan pendekatan ini, Indonesia bisa mengubah ancaman digital menjadi peluang untuk lahirnya Bhayangkara Digital—kombinasi disiplin militer dan kecerdasan teknologi.

Supremasi Sipil dan Tata Kelola

OEF harus berjalan dalam kerangka supremasi sipil. Presiden sebagai Panglima Tertinggi bertanggung jawab menjaga agar kebijakan pertahanan tidak bergeser menjadi politik ekonomi berseragam militer. Perlu audit pertahanan nasional yang menilai bukan hanya peralatan, tapi juga kesiapan digital, interoperabilitas, dan daya tahan logistik. Transparansi ini akan memperkuat kepercayaan publik dan efisiensi fiskal.

Benchmark Dunia

Beberapa negara kecil berhasil menjadi kekuatan besar karena efisiensi dan kecerdasan:

Indonesia bisa mengambil pelajaran ini untuk membangun OEF-Nusantara—pertahanan adaptif berbasis teknologi, sosial, dan spiritual bangsa.

Arah Strategis untuk Presiden

OEF bukan sekadar proyek pertahanan, melainkan cermin kesiapan bangsa menghadapi zaman ketika perang terjadi di layar dan jaringan, bukan di parit dan barak.

Dengan visi kepemimpinan presiden yang kuat, Indonesia dapat memadukan kekuatan militer, stabilitas fiskal, dan kemandirian pangan menjadi satu sistem ketahanan total 2045: cerdas secara teknologi, tangguh secara ekonomi, dan berjiwa Pancasila.

 

**Penulis Adalah Mantan KA BPKP, Lemhanas Kra 29 dan Founder DW-GPT Institute