MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

NASIONAL

20 Oktober 2021,    20:37 WIB

UMKM Harus Mampu Beradaptasi Dengan Era Digital


lian

UMKM Harus Mampu Beradaptasi Dengan Era Digital

UMKM Harus Mampu Beradaptasi Dengan Era Digital

Jakarta-mediaindonesianews.com: Kondisi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dimasa pendemi Covid-19 berdampak sangat signifikan terhadap eksistensi dan pertumbuhan. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sebanyak 15.974 unit atau 26,32% dari 60.702 unit Usaha Menengah (UM) turun kelas ke level mikro. Kemudian sebanyak 605.147 unit atau 75,23% dari 783.132 unit Usaha Kecil (UK) bergeser ke level mikro. Kondisi ini terjadi karena terhentinya proses produksi dan pasokan terhambat saat pembatasan sosial dan interaksi secara fisik.

UMKM Harus Mampu Beradaptasi Dengan Era Digital

"Di era perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini, upaya transformasi digital merupakan salah satu langkah adaptasi dalam mempertahankan eksistensi UMKM. Dimana Masa pandemi Covid-19 ini memaksa pelaku UMKM mendisrupsi pola operasional usaha dalam ekosistem digital," ujar Irwan  Wijaya.HS Ketua Umum Dewan UKM Indonesia dalam paparan pada Forum Literasi Digital, UMKM Go Digital, Prospek dan Tantangan UMKM di Era Disrupsi Teknologi Hotel Sultan, Jakarta, Senin (18/10).

Menurut Irwan, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, selama pandemi, UMKM Go Digital telah meningkat pesat hingga 99% yakni sebanyak 15,9 juta unit dari sebelumnya hanya mencapai 8 juta unit. Peluang Kolaborasi Pentha Helix (Pemerintah, Sektor Swasta, Akademisi, Media dan Komunitas/Ormas) dalam berbagai program telah membantu percepatan UMKM Go Digital untuk mencapai target yang ditetapkan pemerintah sebanyak 30 juta UMKM masuk ekosistem digital pada tahun 2024. Hingga bulan oktober 2021 UMKM yang terhubung dengan platform digital sudah mencapai 15,9 juta atau sekitar 24,9% dari jumlah UMKM yang terdata sebanyak m 65 juta unit.

“Perkembangan pesat, bukan saja terlihat dari jumlah UMKM yang Go Digital, tapi diiringi pula dengan peningkatan transaksi. Antara tahun 2020 dan 2021 mencapai 548 juta transaksi atau 99%, sementara nilai transaksi meningkat 52% senilai Rp88 Trilyun. Hasil survey Google dan Temasek menyatakan, nilai transaksi Ekosistem Digital Indonesia tahun 2025 diproyeksi mencapai Rp1.826 Trilyun dan akan menjadi terbesar di Asia Tenggara. Survei Bank Indonesia tahun 2020 mencatat nilai transaksi E-commerce mencapai Rp.253 Trilyun dan pada tahun 2021 meningkat 33% senilai Rp337 Trilyun” urainya.

Untuk itu lanjut Irwan, sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional, UMKM harus mampu beradaptasi dengan era digital. Namun diakui Irwan terdapat beberapa kendala dan tantangan UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital, terutama market place atau e-commerce, tantangan pertama dan merupakan yang utama adalah Literasi Digital. Ditambah keterbatasan SDM yang belum sanggup beradaptasi karakter bisnis online yang membutuhkan respon cepat dan ketersediaan produk. Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan memanfaatkan teknologi sebagai faktor utama menghambat pelaku UMKM go digital.

"UMKM umumnya belum mengetahui cara mengunduh aplikasi berjualan atau mengunggah informasi dan foto terkait produk dan memanfaatkan fitur disitus e-commerce. Tantangan kedua adalah menentukan Platform Digital. Saat melakukan trans formasi digital, UMKM seringkali kebingungan menentukan platform yang me njangkau konsumen secara luas sesuai karakter usaha/produk” katanya.

Bagi Irwan adapun solusi untuk mengatasi tantangan tersebut, pelaku UMKM harus belajar secara bertahap dan berkesinambungan. Proses belajar ini bisa dilakukan antara lain dengan bergabung dengan organisasi atau komunitas UMKM, mencari mentor, hingga aktif mengikuti kelas online atau werbinar. Sebagai solusi terhadap tantangan menentukan platform digital, pelaku UMKM terlebih dahulu menentukan target konsumen. Hal ini sering disebut dengan Mencari Pesona atau Profilling Pesona yang tepat sesuai sasaran pasar.

"Dengan profiling pesona, pelaku UMKM bisa mengetahui berbagai informasi terkait target konsumen, mulai dari gender, usia, lokasi, kebiasaan hingga penghasilan mereka. Strategi pemasaran digital atau digital marketing adalah tantangan tersendiri yang harus dihadapi pelaku UMKM dalam melakukan transformasi digital," ujarnya.

Irwan juga menegaskan bahwa, Pandemi Covid-19 merupakan musibah sekaligus berkah bagi UMKM, pada satu sisi umumnya UMKM terpuruk karena tidak mampu beradaptasi dengan tuntutan perubahan era distrupsi digital. Sedangkan pada sisi lainnya dapat diartikan sebagai berkah karena banyak pelaku UMKM yang telah terkoneksi dalam ekosistem digital dan mendapatkan manfaatnya. Hal ini dapat dilihat dari data peningkatan jumlah UMKM yang go digital dan nilai transaksi ekonomi digital Indonesia yang cenderung meningkat.

"Disadari, transformasi digital menciptakan efisiensi dan efektifitas usaha serta kreatifitas. Era disrupsi digital membuka peluang yang sangat besar terhadap pengembangan UMKM. Memang diakui masih banyak kendala yang dihadapi UMKM, namun dengan keberpihakan pemerintah dan sinergitas pemangku kepentingan, akan mem berikan solusi secara konfrehensif," tutupnya.

Hadir dalam acara tersebut Sjarifudin Hasan, MM., MBA Wakil Ketua MPR RI  Anggota Komisi I DPR RI, Ir. Siti Azizah MBA Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM.  (lian)