MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

NASIONAL

17 Juni 2021,    00:01 WIB

Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan Dimasa Pandemi Covid-19


Lian

Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan Dimasa Pandemi Covid-19

Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan Dimasa Pandemi Covid-19

Jakarta - mediaindonesianews.com: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus gencar mengingatkan masyarakat perihal pentingnya program Keluarga Berencana (KB) terutama selama masa pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 berdampak pada pelaksanaan program KB nasional.

Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan Dimasa Pandemi Covid-19

Data terbaru BKKBN menyatakan adanya penurun drastis angka program KB selama masa pandemi COVID-19. BKKBN meminta masyarakat, terutama pasangan muda yang baru menikah, untuk melakukan program KB dan menunda kehamilan mereka selama masa pandemi COVID-19, hal ini dilakukan agar menghindari kehamilan dan melahirkan di masa pandemik dan penurunan angka kejadian penyakit stunting.

Hal ini sesuai dengan Panduan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dalam situasi Pandemi COVID-19 dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES – RI) yang mengikuti rekomendasi WHO serta masukan dari organisasi profesi dan lintas sektor terkait (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional – BKKBN), yaitu salah satunya adalah menunda kehamilan sampai kondisi pandemi COVID-19 berakhir.

Menurunnya angka pengakses layanan KB selama masa pandemi COVID-19 juga meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak direncanakan (unwanted pregnancy), kehamilan tidak direncanakan adalah kehamilan yang terjadi pada waktu yang tidak diinginkan atau dijadwalkan, kehamilan tidak direncanakan dapat terjadi karena tidak menggunakan alat kontrasepsi, atau menggunakan alat kontrasepsi yang tidak konsisten atau tidak benar. 

Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan Dimasa Pandemi Covid-19

Kehamilan tidak direncanakan dapat berdampak negatif pada kesehatan, sosial, dan psikologis, termasuk dapat meningkatkan kematian dan kesakitan ibu dan bayi baru lahir, serta peningkatan angka kejadian penyakit stunting, berdasarkan perhitungan estimasi BKKBN, setidaknya 5 dari 100 kehamilan yang terjadi dapat mengalami keguguran. 

Oleh karena itu, kehamilan di masa pandemic COVID-19 ini sebisa mungkin untuk ditunda Di Indonesia, rata-rata ada dua kematian ibu setiap satu jam. Prediksi BKKBN, angka ini diyakini bisa meningkat hingga dua kali lipat di masa pandemi COVID-19 jika angka masyarakat aktif KB terus menurun. Program KB diharapkan terus berjalan secara efektif demi memenuhi hak reproduksi setiap individu, terutama pada perempuan yang menanggung langsung risiko-risiko kehamilan tidak direncanakan. 

Berangkat dari persoalan tersebut diatas maka dilakukanlah kegiatan untuk mengantisipasi lonjakan kehamilan di masa pandemik COVID-19 sehingga terciptanya Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dalam situasi Pandemi COVID-19 dan penurunan angka kejadian penyakit stunting, dengan dukungan penuh dari pemangku kebijakan terkait yaitu BKKBN, KEMENKES, KEMENKO PMK, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KEMENPPPA), Staff Khusus Wakil Presiden RI bidang kesehatan, KOMISI IX DPR RI, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI), Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), kalangan medis, pihak perusahaan farmasi

Dalam Webinar dalam tema “Mengantisipasi Lonjakan Kehamilan di Masa Pandemi Covid-19” Rabu (16/6/2021). bertempat di  ruang rapat Pasca Sarjana Universitas Sahid Jl. Jend Sudriman, Jakarta (Lantai 5). Dr. Marlinda Irwanti, S.E., M.Si Ketua Umum Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) mengatakan, FPPI sebagai organisasi perempuan  tidak boleh berhenti dalam berkarya  dan bergerak. FPPI  mempunyai visi dan misi  bagaimana  sebagai perempuan  berjuang dalam  kesetaraan gender. Bagaimana FPPI bisa  meningkatkan dan  memperjuangkan  kesetaraan Gender  di berbagai bidang, baik itu pendidikan,  kesehatan,  ekonomi,  sosial dan politik.  

"Masih banyak  ada ketimpangan-ketimpangan  terhadap permasalahan perempuan. walaupun  Omnibus Law sudah  jelas mengamanatkan  tidak boleh ada lagi  perbedaan  antara laki-laki dan perempuan  di tempat kerja, namun masih banyak  juga terjadi.  Dan itu menjadi tanggjawab kita semua perempuan, " katanya dalam dalam sambutannya.

Kata Marlinda, masih banyak kasu-kasus KDRT  dimasa situasi covid 19 ini  ketika banyak terjadi PHK dari laki-laki kecenderungan  terjadinya  KDRT cukup tinggi.  Ditambah lagi dengan pelecehan seksual  kepada keluarga.

"Kita juga punya perjuangan  yang selama terus kita perjuangkan  walaupun dalam situasi covid 19  bagaimana caranya  supaya diskriminasi  yang masih terjadi  di sektor-sektor  tertentu untuk  bisa dikurangi.  Pada prinsipnya FPPI  terbuka bekerjasama  dengan semua kementerian  dan instansi terkait  untuk bisa membantu perempuan maju untuk Bangsa dan Negara, ucapnya .

Sementara itu dalam sambutannya Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Dr. Ir. Giwo Rubianto  disampaikan oleh  Handriani Uli  Tiur Ida Silalahi SE, MSi sangat mengapresiasi seminar yang diadakan oleh FPPI dengan tema "mengantisipasi lonjakan kehamilan dimasa pandemi covid 19". Sebagai usaha untuk menghadapi lonjakan secara tingginya angka kelahiran tidak direncakan terjadi ditengah  masa pandemi covid 19, ujarnya.

 Dijelaskan,  dimana menurut BKKN  ada lebih dari  400 ribu ke hamilan   yang tidak direncakan  dan dari angka tersebut diperoleh  angka kelahiran pada tahun 2021  akan mencapai 420 bayi bahkan berpotensi melebih angka tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya "baby boming" pasca pandemi, katanya.   

Maka dari itu  lanjutnya, sangat tepat  membahas tema ini  dalam masa pandemi Ketua Umum Kowani berharap semoga seminar membawa hasil  yiatu upaya efektif dan efesien dalam mengantisipasi lonjakan kehamilan dimasa  pandemi 19 ini.  yang dapat diimplementasikan serta disosialisasikan kepada masyarakat.

"Kiranya dimasa mendatang FPPI  dapat terus memegang teguh tujuan pendiriannya seraya mampu menjadi "Pioner Of Change" sekaligus mampu mengemban tugas  sebagai ibu bangsa , yaitu ibu yang mendidik  anak-anak sebagai generasi penerus masa depan bangsa yang kreatif, inofatif,  unggul serta sehat jasmani dan rohani serta berkepribadian bangsa yang kuat dan nasionalis, serta mampu menjaga moral keluarga dan masyarakat yang menjaga alam untuk anak  cucunya yang  mampu menggerakan ekonomi  keluarga dan  masysarakat. Mari kita saling bersinergi dan meningkatkan amal bakti  sebagi ibu bangsa dan ibu pertiwi dengan terus memupuk semangat  kekeluargaan saling gotong royong, dan bahu membawa di dalam pandemi covid 19 ini, tutupnya.  

Sementara itu dalam Keynote Speech Arzeti Bilbina, S.E., M.A.P. Komisi IX DPR RI menjelaskan, materi ini menjadi acuan bagi semuanya, bagaimana untuk mengantisipasi  lonjakan kehamilan di masa pandemi 19. Sebagai perempuan  sebagai ibu yang  notabene adalah  sebagai liding  bahasa mengenai pandemi covid 19  virus ini tentunya  membuat semua  merasa bosan, cape,  tetapi bahasa ini tidak menjadikan  patah semangat tetapi  justru menjadikan untuk tetap bersemangat  berpenggangan tangan sebagai  perempuan.

"Acara ini sangat baik, salah satu acuan bagi kita sebagai perempuan untuk bersama-sama  bahwa kita mampu  menjalani yang namanya  bahasanya "new normal" yang selalu kita dengar, karena mau tidak mau  harus hidup berdampingan dengan virus corona ini," katanya.  

Arzeti Bilbina mengatakan, adanya pandemi covid 19 ini tentunya menimbulkan banyak masalah.  Itu adalah tantangan bagi perempuan. Perempuan itu adalah perempuan hebat, kuat  masalah apa pun dia akan mampu  untuk bisa menyelesaikan. Apa lagi dengan adanya wadah forum seperti ini.  

"Untuk itu mari kita  bersama-sama  melakukan  terobosan-terobosan  untuk melihat apa  yang harus dilakukan agar  permasalahan  ini bisa diatasi  bersama-sama," ujarnya.  

Dimasa pandemi covid 19 ini katanya,  banyak yang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Mulai tingginya angka kehamilan hingga menurunya angka program KB di masa pandemi. Karena sekarang tidak boleh ada kerumunan kegiatan, sehingga semua terhenti.  

"Untuk itu saya memberikan apresiasi kepada BKKBN karena sekarang yang dilakukan adalah  jemput bola door to door. Tetapi kita ketahui  untuk keterangan BKKN di tahun 2020 kemarin, ada lebih 400 ribu kehamilan yang tak direncanakan dimasa pandemi covid 19 ini. Tapi kami yakin  lebih dari 400 ribu,"  jelasnya .

Arzeti meminta agar program KB terus digalakan dan relevan  terlebih di masa pandemi covid 19 ini.  Demi melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas  dan generasi emas. Generasi yang sangat diharapkan bersama. Untuk menjadi pemimpin kedepan penundaan kehamilan dimasa pandemi  adalah satu yang sangat bijak mengingat resiko yang sangat tinggi atau bahaya kehanilan dimasa pandemi, pintanya.  

Arzeti meminta, pandemi ini merupakan hal yang tidak ideal untuk hamil.  Hal tersebut katanya sangatlah  baik untuk disosialisasikan, kampanyekan dan infokan  keluarga-keluarga.  Salah satunya adalah dalam  forum perempuan.


"Saat ini kita butuh melangkah bersama  untuk menjaga satu dengan yang lain  untuk menjaga agar ibu-ibu hamil  dalam kondisi situasi yang nyaman supaya dapat  melahirkan anak-anak yang sehat  dan juga kuat. Ini tanggung jawab kita bersama  bukan tanggung jawab individual. Bukan hanya tanggjwab perempuan saja  akan tetapi juga tanggjwab laki-laki . mka kita dapat optimis bahwa  kita mampu  menghadapi dan mengatasi situasi sulit seperti ini ," tandasnya.  

Hadir dalam acara Webinar Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Dr. Ir. Giwo Rubianto,  diwakili oleh Hadriani Uli Tiur  Ida silalahi SE, MSi,   Keynote Speech oleh Ibu Arzeti Bilbina, S.E., M.A.P. Komisi IX DPR RI, Deputi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KEMEKO PMK) Fenny Eka Kartika Putri, M.Psi, Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny N. Rosalin, Kepala Badan Kependudukan dan Keluaraga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) yang diwakili oleh Dr. Eni Gustina  MPH  Deputi bidang Keluarga  dan  Kesehatan Reproduksi, Direktur Bidang Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Dr. Erna Mulati, MSc., Penanggap dari Staf Khusus Wakil Presiden Indonesia Dr. Siti Hannah Ma’ruf Amin. (lian)