MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

NASIONAL

11 Juni 2021,    18:52 WIB

Mengelola TPST Dengan kemampuan Sendiri Dengan Cara Mandiri


Lian

Mengelola TPST Dengan kemampuan Sendiri Dengan Cara Mandiri

Para pekerja sedang memilah milah sampah non organik

Jakarta - mediaindonesianews.com: Rasa Sosial dan mau mengorbankan tenaga dan pikirannya hanya untuk mengurus sampah-sampah di lingkungannya tinggal. Memang ini bukan perkara mudah. Mengambil profesi penarik sampah memang banyak yang harus di perhitungkan. Aroma yang menyengat memang bukan menjadi penghalang, ini semua kembali kepada pilihan hidup.  Hal ini pun yang dilakukan bersama-sama dua rekan kerja Rudi Suwandi Pengurus RT 10/RW 01 dan Bunawi  Warga RW 01 yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, yang mau terjun langsung untuk menjadi penarik sampah dari awal hingga saat ini masih dilakoni keduanya di wilayah Jalan Kapuk Raya GG. Kampung Apung Kelurahan Kapuk Kecamatan Cengkareng Kota Administrasi Jakarta Barat.

Adanya Tempat pembuangan sampah berada di Kapuk raya gang kampung apung ini diceritakan Rudi Suwandi, awalnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu  (TPST) ini  dibuat dari Departemen  Pekerjaan Umum (PU)  untuk tempat pembuangan  sampah terpadu.  Sampah disini dikelola bahkan disini dibuat juga  komposting.  Kata Rudi, awal tahun  2010  sampah  sudah mulai dikelola di TPST  ini,  jadi selama 2 tahun itu berjalan sampah hanya dikelola tanpa di buang keluar bantar gebang.   Pada tahun  2012  TPST ini sempat  ditutup  karena menurut warga itu  nggak baik buat lingkungan.  

"Ditutup itu kita berusaha  mencari solusi  akhirnya kita dikawal dengan  waktu  itu masih wakil lurah  Fahmi Wijaya  kita buat propsal pengajuan  sampah dari TPST ini  untuk dibuang keluar  entah ke bantar gebang atau ketempat lainnya.  Dari saat itu kita sudah mulai  bekerja disini  ia tentu bekerja sosial tentunya.  Untuk kebersihan lingkungan  terutama di wilayah RT kita sendiri   dimana ada 12 RT.  Dari mulai saat itu  kita buat proposal akhirnya disetujui  pada saat itu tahun 2012 sampah kita mulai dibuang  keluar  dan dikelola kita ambil limbahnya sisanya  dibuang keluar," katanya  saat ditemui Mediaindonesia (10/6/2021).
 
Berjalannya waktu TPST ini  berdiri pun dalam  artiannya mandiri  tanpa ada kontribusi dari  pihak-pihak tertentu, boleh dibilang  kalau dalam masalah keuangan  cari-cari sendiri.  Artiannya kata Rudi,  dari petugas kebersihan yang ada  dilingkuangan RT ini   minta perbulannya berapa.  

"Karena tim yang memuat sampah  harus beri upah.  Jadi disitu kita berupaya sekali.  Dengan cara apa pun  kita pilah -pilah limbahnya  yang bisa dijual untuk  upah atau menutupi pengeluaran semuanya, " katanya.  

Keluhan Rudi Suwandi memang sangat berasalan. Karena selama ini  mereka  merasa kurang diperhatikan.  Mengelolah sampah itukan sudah masalah Nasional.  Jadi disini  jelas Rudi, sudah berapa kali  mereka kordinasi   dengan pihak-pihak  mungkin birokrasi yang  ada lingkungan kelurahan, kecamatan,  bahkan ketingkat walikota.  

Mengelola TPST Dengan kemampuan Sendiri Dengan Cara Mandiri


"Ada pun beberapa kali kita  ada pertemuan reses dengan anggota dewan  untuk kita bicarakan masalah  bagaimana solusi  petugas kebersihan  yang ada dilingkungan atau  TPST itu  ada semacam honor kalau bisa.  Itu sudah kami ajukan  tapi sayangnya sampai sekarang tidak ada  realisasinya.  Itu mungkin setiap kita bicara  dibilangnya hanya "nanti kita proses".  Sampai saat ini  kita mengelola TPST ini  memang dengan kemampuan kita sendiri. Dengan cara itu mandiri semua," keluhnya.  

Berjalannya tahun, pada akhirnya warga-warga sekitar bisa menerima karena  sampah yang dibuang dan dikelola  TPST itu nggak  dibuang lagi ke  lingkungan artinya  dibakar,  dibuang  jadi menimbulkan masalah bagi lingkungan.   Sekarang dengan sudah dibuangnya sampah keluar merasa  bersyukur, ucapnya.


Iuran Bulanan

Untuk menutupi biaya operasional setiap harinya, pada akhirnya  diadakan  iuran bulanan bagi pengangkut sampah.  Dijelaskan Rudi,  bicara mengenai uiran bulanan,   kalau untuk pembayaran sampah itu ada  per/pintu  Rp. 5000.000,- satu minggu itu pun kalau orangnya ada,  kalau yang bulanan bisa Rp 20.000,-.  bahkan Rp 25.000,-  ia tergantung dari masyarakat  yang pendapatannya mampu bisa   memberi lebih  Rp 30.000 hingga Rp.40.000,- se bulan.  Itu juga dilihat volume sampahnya juga di rumah masing-masing.   

"Untuk saat ini tim  petugas ada 12 orang yang mengelola TPST ini.  Untuk memberi honor para pekerja disini, hanya pengangkut sampah saja.  Kalau petugas kebersihan biasanya sudah dapat dari  lingkungan masing-masing.  Dari warga yang diangkut sampahnya.   Jadi mereka yang nagih untuk uang sampah ke warga-warga," tegasnya.  


Sekali lagi sebagi pengurus RT 10 RW 01  Rudi Suwandi   meminta ketegasan untuk pemerintah mengenai sampah ini,  sebagai pekerja dilingkungan disetarakan dengan PPSU  atau petugas dari tata air  seperti UPK  mereka pun sama mengambil sampah  dia dapat honor.  

"Nah kita mau disetarakan dengan  mereka-mereka itu.  Itu keinginan saya  mewakili seluruh yang ada di wilayah DKI ini.  Jadi tolonglah  jerih payah kami ini  dihitung, diperhatikan, dipedulikan  dari pihak pihak diatas sana," pintanya.

Mengelola TPST Dengan kemampuan Sendiri Dengan Cara Mandiri


Hal senada pun diungkapkan   Bunawi yang juga bekerja sebagi penarik sampah dilingkungan RW 01. kata Dia, terbentuknya TPST ini tahun 2009  dan 2010.  Terbentuknya TPS ini  karena kinerja sebagai sebagai tukang sampah  waktu itu  ada lembaga yang  masuk wilayah ini melihat  potensi disini  sampah yang begitu tinggi.

" Jadi kita diperintahkan  untuk  bisa tidak mengelolah sampah ini  dijadikan tambahan buat kami," tandasnya.  


"Waktu itu saya disuruh  bikin komposting dan  limbah-limbah  sampah rumah tangga  yang sudah mengering dan sudah   lama.  Akhirnya saya kerjakan semua,  saya bereskan semua sampah  disini sampai terjadi namanya pembuangan  komposting. Nggak sampai disitu saja,  saya memilah sampah  dari yang organik dan  non organik.  mana sampah saya  jual  dan mana sampah yang bisa saya  manfaatkan untuk  komposting  dan mana sampah yang harus  dibuang ke bantar gebang.  Waktu itu kita belum ada mobil  masuk karena disini  masih rawa  jadi kita  pasang bambu  kita buat apa  supaya bisa di pilah-pilah sampah. Dari situ baru ada yang namanya LSM itu  ingin sekali  disini dibangun TPST tempat  pengelolaan sampah  terpadu," katanya lagi.

Kata Bunawi, keberadaan dirinya disini  memang dari awal  bekerja sebagai  penarik sampah  ia itu sudah resiko seperti  ini jalankan hidup. Kedepannya kata Bunawi, pemerintah  istilah "melek" maksudnya, ada kepedulian atau perhatian untuk  pekerja penarik sampah lingkungan, untuk biaya hidup sehari hari juga sulit.  Karena penarik sampah diligkungan  resikonya sangat besar sekali.  

"Kami ingin kedepannya pemerintah  memperhatikan kami dengan adanya gaji buat kami.  seperti PPSU  karena boleh dikatakan  ujung tombok kebersihan di RW 01 ini  ia kita-kita orang ini.   Kalau kita sampai nggak bekerja  atau kita tidak mengangkut sampah  satu atau dua hari saja  responnya sudah beda.   mereka inginnya bersih," ujarnya.


Dalam mengelola sampah disini  Rw 01 itu ada 12 RT.  itu pun 2 RT sudah  dia punya buang sendiri.  Dari 10 RT ini  per hari sampah itu mencapai  5- 6 ton sampah per hari.  Tetap sampah masukan dulu ke TPST dulu, nanti baru pilah  mana yang bisa dijadikan uang  selebihnya buang ke bantar gebang.  melalui mobil sudin kebersihan.

"Saya senang dan bangga dengan  keberadaan saya sebagai penarik sampah.  Kalaupun sedikit  bekorban untuk lingkungan itu sangat bangga sekali walaupun dengan hasil  yang saya terima tidak sesuai dengan  apa yang sudah kita keluarkan," pungkasnya. (lian) .