NASIONAL
Para pekerja sedang memilah milah sampah non organik
Jakarta - mediaindonesianews.com: Rasa Sosial dan mau mengorbankan tenaga dan pikirannya hanya untuk mengurus sampah-sampah di lingkungannya tinggal. Memang ini bukan perkara mudah. Mengambil profesi penarik sampah memang banyak yang harus di perhitungkan. Aroma yang menyengat memang bukan menjadi penghalang, ini semua kembali kepada pilihan hidup. Hal ini pun yang dilakukan bersama-sama dua rekan kerja Rudi Suwandi Pengurus RT 10/RW 01 dan Bunawi Warga RW 01 yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, yang mau terjun langsung untuk menjadi penarik sampah dari awal hingga saat ini masih dilakoni keduanya di wilayah Jalan Kapuk Raya GG. Kampung Apung Kelurahan Kapuk Kecamatan Cengkareng Kota Administrasi Jakarta Barat.
Adanya Tempat pembuangan sampah berada di Kapuk raya gang kampung apung ini diceritakan Rudi Suwandi, awalnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) ini dibuat dari Departemen Pekerjaan Umum (PU) untuk tempat pembuangan sampah terpadu. Sampah disini dikelola bahkan disini dibuat juga komposting. Kata Rudi, awal tahun 2010 sampah sudah mulai dikelola di TPST ini, jadi selama 2 tahun itu berjalan sampah hanya dikelola tanpa di buang keluar bantar gebang. Pada tahun 2012 TPST ini sempat ditutup karena menurut warga itu nggak baik buat lingkungan.
"Ditutup itu kita berusaha mencari solusi akhirnya kita dikawal dengan waktu itu masih wakil lurah Fahmi Wijaya kita buat propsal pengajuan sampah dari TPST ini untuk dibuang keluar entah ke bantar gebang atau ketempat lainnya. Dari saat itu kita sudah mulai bekerja disini ia tentu bekerja sosial tentunya. Untuk kebersihan lingkungan terutama di wilayah RT kita sendiri dimana ada 12 RT. Dari mulai saat itu kita buat proposal akhirnya disetujui pada saat itu tahun 2012 sampah kita mulai dibuang keluar dan dikelola kita ambil limbahnya sisanya dibuang keluar," katanya saat ditemui Mediaindonesia (10/6/2021).
Berjalannya waktu TPST ini berdiri pun dalam artiannya mandiri tanpa ada kontribusi dari pihak-pihak tertentu, boleh dibilang kalau dalam masalah keuangan cari-cari sendiri. Artiannya kata Rudi, dari petugas kebersihan yang ada dilingkuangan RT ini minta perbulannya berapa.
"Karena tim yang memuat sampah harus beri upah. Jadi disitu kita berupaya sekali. Dengan cara apa pun kita pilah -pilah limbahnya yang bisa dijual untuk upah atau menutupi pengeluaran semuanya, " katanya.
Keluhan Rudi Suwandi memang sangat berasalan. Karena selama ini mereka merasa kurang diperhatikan. Mengelolah sampah itukan sudah masalah Nasional. Jadi disini jelas Rudi, sudah berapa kali mereka kordinasi dengan pihak-pihak mungkin birokrasi yang ada lingkungan kelurahan, kecamatan, bahkan ketingkat walikota.
"Ada pun beberapa kali kita ada pertemuan reses dengan anggota dewan untuk kita bicarakan masalah bagaimana solusi petugas kebersihan yang ada dilingkungan atau TPST itu ada semacam honor kalau bisa. Itu sudah kami ajukan tapi sayangnya sampai sekarang tidak ada realisasinya. Itu mungkin setiap kita bicara dibilangnya hanya "nanti kita proses". Sampai saat ini kita mengelola TPST ini memang dengan kemampuan kita sendiri. Dengan cara itu mandiri semua," keluhnya.
Berjalannya tahun, pada akhirnya warga-warga sekitar bisa menerima karena sampah yang dibuang dan dikelola TPST itu nggak dibuang lagi ke lingkungan artinya dibakar, dibuang jadi menimbulkan masalah bagi lingkungan. Sekarang dengan sudah dibuangnya sampah keluar merasa bersyukur, ucapnya.
Iuran Bulanan
Untuk menutupi biaya operasional setiap harinya, pada akhirnya diadakan iuran bulanan bagi pengangkut sampah. Dijelaskan Rudi, bicara mengenai uiran bulanan, kalau untuk pembayaran sampah itu ada per/pintu Rp. 5000.000,- satu minggu itu pun kalau orangnya ada, kalau yang bulanan bisa Rp 20.000,-. bahkan Rp 25.000,- ia tergantung dari masyarakat yang pendapatannya mampu bisa memberi lebih Rp 30.000 hingga Rp.40.000,- se bulan. Itu juga dilihat volume sampahnya juga di rumah masing-masing.
"Untuk saat ini tim petugas ada 12 orang yang mengelola TPST ini. Untuk memberi honor para pekerja disini, hanya pengangkut sampah saja. Kalau petugas kebersihan biasanya sudah dapat dari lingkungan masing-masing. Dari warga yang diangkut sampahnya. Jadi mereka yang nagih untuk uang sampah ke warga-warga," tegasnya.
Sekali lagi sebagi pengurus RT 10 RW 01 Rudi Suwandi meminta ketegasan untuk pemerintah mengenai sampah ini, sebagai pekerja dilingkungan disetarakan dengan PPSU atau petugas dari tata air seperti UPK mereka pun sama mengambil sampah dia dapat honor.
"Nah kita mau disetarakan dengan mereka-mereka itu. Itu keinginan saya mewakili seluruh yang ada di wilayah DKI ini. Jadi tolonglah jerih payah kami ini dihitung, diperhatikan, dipedulikan dari pihak pihak diatas sana," pintanya.
Hal senada pun diungkapkan Bunawi yang juga bekerja sebagi penarik sampah dilingkungan RW 01. kata Dia, terbentuknya TPST ini tahun 2009 dan 2010. Terbentuknya TPS ini karena kinerja sebagai sebagai tukang sampah waktu itu ada lembaga yang masuk wilayah ini melihat potensi disini sampah yang begitu tinggi.
" Jadi kita diperintahkan untuk bisa tidak mengelolah sampah ini dijadikan tambahan buat kami," tandasnya.
"Waktu itu saya disuruh bikin komposting dan limbah-limbah sampah rumah tangga yang sudah mengering dan sudah lama. Akhirnya saya kerjakan semua, saya bereskan semua sampah disini sampai terjadi namanya pembuangan komposting. Nggak sampai disitu saja, saya memilah sampah dari yang organik dan non organik. mana sampah saya jual dan mana sampah yang bisa saya manfaatkan untuk komposting dan mana sampah yang harus dibuang ke bantar gebang. Waktu itu kita belum ada mobil masuk karena disini masih rawa jadi kita pasang bambu kita buat apa supaya bisa di pilah-pilah sampah. Dari situ baru ada yang namanya LSM itu ingin sekali disini dibangun TPST tempat pengelolaan sampah terpadu," katanya lagi.
Kata Bunawi, keberadaan dirinya disini memang dari awal bekerja sebagai penarik sampah ia itu sudah resiko seperti ini jalankan hidup. Kedepannya kata Bunawi, pemerintah istilah "melek" maksudnya, ada kepedulian atau perhatian untuk pekerja penarik sampah lingkungan, untuk biaya hidup sehari hari juga sulit. Karena penarik sampah diligkungan resikonya sangat besar sekali.
"Kami ingin kedepannya pemerintah memperhatikan kami dengan adanya gaji buat kami. seperti PPSU karena boleh dikatakan ujung tombok kebersihan di RW 01 ini ia kita-kita orang ini. Kalau kita sampai nggak bekerja atau kita tidak mengangkut sampah satu atau dua hari saja responnya sudah beda. mereka inginnya bersih," ujarnya.
Dalam mengelola sampah disini Rw 01 itu ada 12 RT. itu pun 2 RT sudah dia punya buang sendiri. Dari 10 RT ini per hari sampah itu mencapai 5- 6 ton sampah per hari. Tetap sampah masukan dulu ke TPST dulu, nanti baru pilah mana yang bisa dijadikan uang selebihnya buang ke bantar gebang. melalui mobil sudin kebersihan.
"Saya senang dan bangga dengan keberadaan saya sebagai penarik sampah. Kalaupun sedikit bekorban untuk lingkungan itu sangat bangga sekali walaupun dengan hasil yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang sudah kita keluarkan," pungkasnya. (lian) .