NASIONAL
Dr. John Palinggi, MBA
Jakarta-mediaindonesianews.com: Pasca Presiden Joko Widodo melantik enam Menteri Kabinet Indonesia Maju untuk sisa masa jabatan periode tahun 2019-2024, ditunjuknya Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama (Menag) yang dalam program kerjanya kedepan menegaskan bahwa agama merupakan inspirasi, bukan aspirasi. Semangat tersebut nantinya dapat dirinci ke dalam banyak kegiatan seperti bagaimana cara berhubungan antar umat beragama, hubungan interumat beragama, bahkan juga soal pandemi Covid-19.
Pernyataan Menag mendapat tanggapan dari Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John Palinggi, MBA yang menjelaskan bahwa hubungan antar agama sangat diharapkan karena dengan terciptanya kerukunan beragama sebagai dasar toleransi yang dinamis. Artinya, sesuatu yang tidak baku tetapi bisa berjalan dan bisa memahami semua orang yang beragama memahami diri bahwa tujuan beragama itu adalah membutuhkan satu kerukunan dalam toleransi yang tinggi.
“Jadi memang kita berbeda-beda tetapi kita bisa saling mengharagai satu dengan yang lain, kita membentuk Negara ini atas dasar Bhinekka Tunggal Ika berbeda-beda tapi satu, maka kalau kita mau membangun negara ini, kita harus bersatu, kita harus rukun dan damai atas dasar toleransi dan negara ini maju atas dasar itu, kalau tidak ada itu negara ini akan runtuh,” tegasnya kepada Mediaindonesianews Selasa (29/12).
Dijelaskan John, bahwa konsep kerukunan beragama itu dari dulu sampai sekarang sudah ada. Orang yang beragama itu membentuk kelompok sendiri, ini belum rukun dan perlu dirukunkan, jadi konsepnya adalah kerukunan antar agama yang berbeda dan yang terakhir kerukunan antar beragama yang beda dengan pemerintah.
“Jadi ada tiga konsep yang belum terjangkau dari segi pembinaan itu adalah bagaimana merukunkan internal agama. Internal aja belum rukun. Tetapi secara Nasional selama ini hampir puluhan tahun saya lihat, kerukunan itu sudah berlangsung dengan baik. Kerukunan beragama di Indonesia sangat baik, walaupun ada perbedaan itu biasa, jadi kerukunan yang dinamis dalam toleransi antar orang yang beragama,” ungkapnya.
Menurut pandangan John yang juga sebagai pengamat politik dan sosial kemasyarakatan, bahwa penempatan Yaqut Cholil Qoumas Menteri Agama mempunyai pandangan yang jauh kedepan mengenai Negara, karena dia berada di posisi yang independen dan melihat betapa pentingnya merukunkan umat beragama.
“tentu akan hal tersebut akan diterapkan di Kemenag karena Menag sekarang sangat menghormati orang yang berbeda agama tapi dia mempunyai sikap terhadap orang yang suka menganggu orang yang beragama pasti akan dia terapkan dengan baik, namun kami meminta Menteri Agama yang baru harus mengadaptasikan diri dengan situasi yang dihadapi, mewujudkan konsep strategis yang dibuat oleh Presiden dalam kerangka tujuan pencapaian kerukunan beragama dan pembinaan- pembinaan di kementerian serta beberapa aspek lainnya yang harus dibenahi. Saya yakin dan percaya Menteri Agama yang baru sanggup melaksanakan, hanya satu usul kepada beliau, adaptasikan diri dengan situasi baru yang dihadapi” paparnya.
Pandangan lain diutarakan John Palinggi atas ditunjuknya Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial (Mensos) John yakin Tri Rismaharini tepat untuk menjadi Mensos.
“Intinya Risma juga harus mengadaptasikan diri juga di dalam melaksanakan tugasnya sudah berskala nasional. Adaptasi menjadi menteri itu adalah selalu membawa misi Presiden bukan konsep sendiri” ujarnya.
Sementara itu penempatan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dinilai John Palinggi sangat tepat karena Sandiaga dinilai paham dengan dunia dagang, apakah konsep-konsep pemberdayaan UKM selama ini bisa dijalankan secara baik di pariwisata Indonesia. Jangan sampai teriakan itu lebih besar dari pada hasilnya nanti, hasilnya apa, konsep yang selama ini yang terjadi di UKM yang kita jalankan UKM atau pemberdayaan pengusaha itu berada diatas kertas jumlahnya tapi tidak ada pengusaha diberdayakan.
“Artinya kita hanya kuat diangka seperti itu. Untuk itu harus diperkuat pemberdayan UKM bagi pengusaha agar semakin kuat ekonomi dan harus ada senergi antar kepala daerah untuk menopang UKM ini bersama-sama. Jadi menteri pariwisata itu bukan menghitung jumlah orang yang datang ke Indonesia, tapi mengembangkan tujuan-tujuan pariwisata yang memang diandalkan,” ujar John yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia
Namun disisi lain, John Palinggi mengiritis penempatan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan yang bukan tidak punya pengalaman medis.
“Saya yakin Budi Gunadi dapat menjalankan tugasnya, namun pertanyaannya, kenapa bukan dokter, tidak selalu harus dokter sebagai Menteri Kesehatan tapi orang yang bisa mengarahkan dan bisa memberikan instruksi, arahan yang produktif dan mencapai nilai tambah. Itu yang diperlukan sekarang, jadi penempatan Budi tentu tujuannnya dalam rangka efesiensi keuangan negara tapi efektifitas dari penanganan dari kesehatan itu bisa dicapai secara maksimal,” imbuhnya.
Untuk itu John Palinggi meminta agar keenam Menteri terpilih mengikuti arahan Presiden Joko Widodo.
“Presiden sudah menegaskan bahwa program yang dijalankan bukan program Menteri tetapi kebijakan, keputusan dan arahan pembangunan yang ditentukan, itu yang dijalankan. Jadi yang diminta kinerja yang dipercaya Presiden dapat dijalankan dengan baik,” pungkasnya.
Seperti diketahui enam menteri yang dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 133/P Tahun 2020 diantaranya, Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama, Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan, Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan, Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan; dan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (lian)