NASIONAL
Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, SE., MM
Jakarta-mediaindonesianews.com: Pangdam Jaya menggelar ngopi bareng bersamapara tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, Kasat Jaya, Irdam Jaya, Kapok Sahli, Danrem, Perwira Staf Kodam, para Dandim, ketua dari Pondok Pesantren, Perwakilan Walubi, Perwakilan Umat Hindu, Ketua-ketua Gereja, dengan Tema “Menjaga Keutuhan dan Kemajuan Bangsa Dalam Bingkai NKRI” di Aula Sudirman Makodam Jaya Rabu (25/11)
Dalam sambutannya Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman, SE., MM mengatakan bahwa pertemuan ini untuk menjalin hubungan baik dan harmonis dengan segenap komponen bangsa lainnya, khususnya para tokoh agama, tokoh masyarakat yang ditujukan untuk seluruh wilayah NKRI
“sebagai wujud partisipasi komponen Bangsa dibidang pertahanan Negara aspek darat, disamping itu, agar tetap terpeliharanya silahturahmi antara TNI khususnya Kodam Jaya dengan segenap komponen masyarakat sekaligus sebagai meningkatkan komunikasi secara efektif dalam rangka menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” tegasnya.
Disisi lain Dudung memaparkan dari sasaran komunikasi sosial untuk mewujudkan pemahaman komponen bangsa tetap dibawah kebijakan pimpinan TNI Angkatan Darat (AD) dalam rangka mewujudkan rasa cinta terhadap tanah air.
“Terwujudnya jalinan kerjasama antara Kodam dengan komponen bangsa ditujukan untuk membantu kesulitan dalam menghadapi situasi saat ini,” ungkapnya.
Disamping itu kata Dudung, terwujudnya dukungan komponen bangsa terhadap pencapaian tugas pokok Kodam serta keinginan dan peran serta aktif komponen Bangsa untuk berpatisipasi dibidang pertahanan negara.
“Belakangan ini kita masih saja disibukan dengan perdebatan ideologis tentang bagaimana sejatinya esensi Islam dalam pemikiran atau Afkar dan gerakan atau arahkah, oleh sejumlah kecil Umat Islam, istilah Amal Mahruf Nahimungkar digunakan untuk seolah-olah melakukan klaim kebenaran. Sembari menegasikan yang lain, outputnya tentu hitam dan putih melahirkan tafsir tunggal sehingga yang muncul dipermukaan adalah wajah Agama yang kaku dan maunya menang sendiri. Padahal sudah jelas, Agama islam adalah Rahmat Alamin artinya, kasih sayang untuk keseluruhan alam. Di dalam kasih sayang ada tenggang rasa, tepo salera dan keleraan untuk hidup berdampingan dengan yang lain dari golongan atau keyakinan yang berbeda. Sebab Agama Islam yang di bawah oleh nabi Muhammad melalui para Ulama ini dengan jelas mengajarkan kebenaran, kebaikan, serta menjauhi keburukan. Maka jika siapa pun melakukan keburukan lalu mengatas namakan Agama ketahuilah itu bukan sejatinya Agama. Itu hanya mengatas namakan Agama,” paparnya.
Maka tak ada alasan tegas Dudung, bagi kita untuk beragama tapi, melanggar protokol kesehatan, sebab menjaga kesehatan juga bagian mengamalkan agama.
“Beragama tapi mencaci maki, maka mencaci maki itu bukan sejatinya agama, justru mendengarkan berkatalah yang baik atau diam. Jadi agama justru mengajarkan berkatalah yang baik atau diam. Apalagi kita sebagai bangsa yang menjunjung tradisi ketimuran maka tata karma kearifan lokal dan kebudayaan adalah sejumlah hal yang tidak boleh kita lepaskan dengan alasan kita menjunjung tinggi agama. Justru agama tidak bertentangan dengan budaya, agama adalah nilai relefprinsip yang bisa bersanding dengan kebudayaan kita. Bukan budaya luar yang dipaksakan atas nama agama. Agama Islam juga tidak mengajarkan agar kita mengkultuskan individu tertentu mentasbiskan seseorang itu suci tanpa celah,” urainya.
Oleh karena itu Dudung berharap sebagai sebuah bangsa dengan akar budaya yang adiluhum penting bagi Umat Islam untuk awas dan waspada kerap kali perpecahan terjadi di sejumlah Negara karena menganut agama mudah di adu domba. Mudah di provokasi, dipantik oleh sejumlah agitasi dan propaganda yang mengarah kepada krisis dan distegrasi sosial. Padahal, esensi pada agama islam adalah ukuah bukan perpecahan. Solidaritas bukan pertikain, kebersamaan dan bukan mentalitas yang maunya menang sendiri.
“Semoga sebagai umat beragama kita bisa menampilkan wajah yang semakin menambah publik simpati kepada agama kita dan bukan justru sebaliknya,” pungkasnya.
Dalam kegiatan tersebut hadir sebagai Narasumber diantaranya Dr. KH. Samsul Ma’arif. MA Ketua PWNU DKI Jakarta, Ustadz Fahmi Salim Zubair. Lc. MA Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dan Al- Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan Pimpinan Ponpes Alfachriyah Tangerang serta dipandu moderator Hanny Hendrany, S.Kom., MM., NI.P. (lian)