NASIONAL
Dr. Magit Les Denny Tewu, SE., MM
Jakarta-mediaindonesianews.com: Pada tahun 2025 mendatang, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan berada pada kisaran US$200 miliar, sementara untuk kurun waktu yang sama di Indonesia, diperkirakan mencapai US$133 miliar. Kondisi resesi saat ini dengan pertumbuhan ekonomi negatif akibat Covid 19 maka, mau tidak mau Bangsa ini harus segera belajar dengan cara yang berbeda, hal ini akan terus terjadi dalam waktu yang lama, karena disatu sisi ada yang tidak setuju karena merasa tidak efektif dan banyak orang kehilangan pekerjaan, tetapi, tetap akan didukung karena mengakibatkan efisiensi yang luar biasa demikian pandangan Wakil Rektor II Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta Dr. Magit Les Denny Tewu, SE., MM.
“Untuk itu Pemerintah perlu menyiasati secara adil dan bijaksana,” ujarnya kepada mediaindonesianews.com, Selasa (17/11).
Menurut Denny Tewu, di tengah pandemi ini justru kita melihat percepatan perkembangan digitalisasi.
“Digitalisasi adalah suatu keniscayaan saat ini, oleh karena itu bisnis terkait digital akan semakin marak dengan konsekwensi dampak sebagian masyarakat bisa kehilangan kesempatan bekerja apabila tidak siap beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi,” imbuh Komisaris Utama PT Kresna Ventura.
Lebih lanjut Denny menjelaskan bahwa, Infrastruktur digital yang memadai dan merata di seluruh kawasan harus menjadi agenda utama, bukan saja untuk masyarakat di perkotaan, namun juga di desa-desa dengan harga yang terjangkau dan disertai dengan peningkatan literasi melalui upskilling dan reskilling dari sumber daya manusianya.
“kondisi yang ada telah membuat Mendikbut mengeluarkan kebijakan kurikulum darurat, yang mana harapannya dapat meningkat kreativitas maupun inovasi dari berbagai kalangan untuk situasi perubahan saat ini, menariknya Pemerintah tetap menghargai proses pendidikan dengan berbagai cara yang bisa dijalankan, apakah dengan digitalisasi ataupun secara manual,” ujarnya.
Bahwa percepatan transformasi digital UMKM akan mendorong bangkitnya roda perekonomian kawasan. Transformasi digital akan terus berkembang dan menjadi gaya hidup berusaha masyarakat kedepan, diprediksi tentunya kemajuan ekonomi akan semakin cepat dengan transaksi keuangan yang semakin cepat dan semakin besar volumenya.
Untuk Denny Tewu melihat, Isue Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) harusnya tetap disosialisasikan dan fakta-fakta realisasinya agar program penyatuan pasar bersama benar-benar dapat terwujud sebagaimana harapan yang diinginkan.
“Saat ini isue mengenai MEA tersebut nampaknya mulai redup, semoga dengan digitalisasi saat ini, maka pasar tunggal MEA mulai dapat dijalankan dan dirasakan manfaatnya oleh mayarakat Asean,” tutupnya. (lian)