KABAR DAERAH
istimewa
Denpasar-Mediaindonesianews.com: Keluhan wisatawan terkait sulitnya mengakses layanan transportasi online di kawasan Pelabuhan Sanur kembali mencuat. Sejumlah wisatawan mengaku kesulitan mendapatkan kendaraan online karena adanya larangan tidak resmi dari oknum sopir lokal yang mengklaim area pelabuhan sebagai wilayah operasi eksklusif mereka, Senin (24/11).
Wisatawan menyebut mereka harus berjalan cukup jauh dari area pelabuhan agar dapat dijemput oleh pengemudi transportasi online. Beberapa di antaranya mengaku mendapat intimidasi lisan saat mencoba memesan layanan tersebut. Kondisi ini dinilai merugikan dan mencoreng pengalaman berwisata di Bali.
“Harusnya pemerintah tegas. Jangan biarkan wisatawan dirugikan,” ujar salah satu wisatawan yang enggan disebutkan namanya.
Selain akses yang dibatasi, wisatawan juga mengeluhkan tingginya tarif taksi lokal yang disebut mencapai dua kali lipat dari tarif transportasi online. Situasi ini memicu dugaan adanya praktik monopoli tarif oleh kelompok tertentu yang memanfaatkan ketidaktegasan regulasi di lapangan.
Pelaku pariwisata dan masyarakat menilai lemahnya pengawasan dan penegakan aturan menjadi salah satu penyebab masalah ini terus berulang. Mereka mendesak pemerintah daerah, pengelola pelabuhan, serta instansi terkait untuk memberikan kepastian layanan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi wisatawan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Denpasar maupun instansi terkait mengenai langkah penanganan persoalan pembatasan transportasi online di kawasan Pelabuhan Sanur. (JroBudi)