KABAR DAERAH
istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Bali mengikuti upacara Maligia Punggel massal yang dipusatkan di Karangsuci, Kedhatuan Agung Alang Sanja, Bebalang, Bangli. Upacara yang sarat makna spiritual ini mencapai puncaknya pada Jumat, 8 Agustus 2025, dengan dipimpin oleh tujuh sulinggih yang merupakan tokoh-tokoh spiritual terkemuka di Bali.
Pelaksanaan upacara berlangsung khidmat dan terstruktur dengan rangkaian kegiatan yang dimulai sejak Kamis (7/8). Prosesi Ngutpeti dan Naur Jero Gede Taro (Lembu) menjadi bagian pembuka sebelum puncak acara, dipimpin langsung oleh ketujuh sulinggih. Acara ini juga diramaikan dengan pertunjukan seni tradisional Bali seperti topeng, wayang gedog, tabuh angklung, dan gambang.
Ketujuh sulinggih yang memimpin upacara puncak tersebut adalah, Ida Ratu Pedanda Gede Buana Putra, Ida Ratu Pedanda Jaksa Putra Gerya Timbul, Ida Ratu Pedanda Ngenjung, Ida Ratu Pedanda Gerya Soka, Ida Ratu Pedanda Sekaton Peling, Ida Ratu Pedanda Suarbawa Karang Adnyana, Ida Ratu Hyang Begawan Kedhatuan Agung Alang Sanja.
Sebelum acara puncak, Jumat pagi dilangsungkan upacara potong gigi massal yang diikuti oleh 25 peserta, sebagai simbol penyucian diri menjelang tahapan spiritual berikutnya. Setelah itu, dilanjutkan dengan upacara Ngening di Bulakan, sebuah mata air suci yang terletak dekat lokasi utama upacara. Seluruh prosesi disiapkan secara matang demi menjamin kekhusyukan dan kelancaran upacara.
Tak hanya sebagai bentuk pelestarian tradisi dan keagamaan, Maligia Punggel juga menjadi momentum kolektif umat Hindu untuk mempererat ikatan sosial dan spiritual. Ketua panitia menegaskan bahwa pelibatan sulinggih dalam jumlah besar menunjukkan besarnya skala upacara serta kesungguhan umat dalam melaksanakan yadnya.
Untuk menambah suasana meriah namun tetap santun dalam balutan religius, pertunjukan bondres Sengap turut memeriahkan puncak acara, menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta maupun pengunjung yang hadir.
Upacara Maligia Punggel massal ini menjadi bukti kuat keberlanjutan tradisi Bali yang tetap hidup dan berkembang, tidak hanya sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai perekat budaya dan kebersamaan lintas generasi. (JroBudi)