KABAR DAERAH
istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Tragedi kematian massal ikan kembali melanda Danau Batur, Kabupaten Bangli, mengakibatkan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp2,1 miliar. Sekitar 70 ton ikan mati mendadak dalam beberapa hari terakhir, memicu keprihatinan luas dan desakan kajian menyeluruh terhadap fenomena yang terus berulang.
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika menyampaikan keprihatinannya dan menegaskan pentingnya penanganan serius dari pemerintah.
“Kematian ikan seperti ini bukan kejadian baru. Hampir setiap tahun masyarakat mengalami hal yang sama. Ini perlu kajian komprehensif agar tidak terulang lagi,” tegasnya, Jum’at (18/7).
Suastika juga mendorong pemerintah untuk tidak hanya melihat dugaan aktivitas vulkanik Gunung Batur sebagai penyebab, tetapi menggali faktor-faktor lain yang mungkin berperan. Menurutnya, selain kerugian ekonomi, masyarakat pembudidaya juga kehilangan waktu, tenaga, dan mata pencaharian utama mereka.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (PKP) Kabupaten Bangli, Wayan Sama, menjelaskan bahwa karena Danau Batur merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Bali, saat ini BRIDA Provinsi Bali tengah melakukan kajian ilmiah atas kejadian tersebut.
“Kami sudah koordinasi. Kajian sedang berjalan, termasuk analisa penyebab kematian ikan jenis red devil. Namun kami masih menunggu hasil resmi,” ujar Wayan.
Hingga kini, belum ada kepastian soal waktu rampungnya kajian tersebut. Warga dan pelaku budidaya ikan berharap hasil penelitian dapat segera diterbitkan dan diikuti langkah nyata untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Danau Batur selama ini menjadi salah satu pusat budidaya ikan air tawar terbesar di Bali, sekaligus penyangga ekonomi ratusan kepala keluarga di sekitar wilayah Kintamani. (JroBudi)