KABAR DAERAH
istimewa
Blora-Mediaindonesianews.com: Pemerintah Kabupaten Blora terus berkomitmen dalam mengangkat derajat pendidikan dan kesejahteraan keluarga kurang mampu, melalui program Sekolah Rakyat Mandiri Angkatan 18 (SRMA 18), tidak hanya anak-anak dari keluarga miskin yang dibantu untuk mengakses pendidikan berkualitas, tetapi orang tua mereka pun akan didampingi secara langsung oleh pemerintah daerah. Hal tersebut disampaikan Bupati Arief Rohman saat menghadiri seremoni penerimaan siswa Sekolah Rakyat SRMA 18 di Pendopo Kabupaten Blora, Rabu (16/7).
"Anak-anak dari keluarga tidak mampu sudah kita bantu masuk asrama Sekolah Rakyat. Sekarang giliran orang tuanya juga harus kita dampingi agar hidupnya lebih baik. Ini sejalan dengan harapan Bapak Presiden Prabowo dan Menteri Sosial agar anak-anak tidak hanya dididik, tapi keluarga mereka juga diberdayakan,” katanya.
Bupati Arief menjelaskan bahwa, program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif nasional dari Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan menyediakan pendidikan formal yang inklusif dan berkualitas untuk keluarga dari Desil 1 dan Desil 2—lapisan masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah. Program ini dirancang agar generasi muda dari keluarga miskin memiliki peluang untuk memutus rantai kemiskinan secara sistematis dan terarah.
Tak berhenti pada siswa, Pemkab Blora akan memulai proses profiling terhadap seluruh orang tua siswa Sekolah Rakyat. Dari pendataan ini, pemerintah daerah akan memetakan kebutuhan spesifik tiap keluarga—apakah berupa bedah rumah, dukungan permodalan, pelatihan keterampilan, atau program lainnya.
"Kalau rumahnya tidak layak, akan kami bantu dengan program bedah rumah. Kalau orang tuanya butuh modal untuk usaha, akan kami fasilitasi permodalan. Kami ingin intervensi ini tepat sasaran dan berdampak langsung,” jelas Arief.
Bupati Arief Rohman menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kepedulian sosial yang tinggi. “Kami ingin lahir generasi baru yang tangguh menghadapi tantangan zaman, punya nilai kemanusiaan, dan bisa membawa perubahan,” tandasnya.
Dengan pendekatan holistik yang mencakup pendidikan dan pemberdayaan ekonomi keluarga, program Sekolah Rakyat di Blora menjadi model konkret perwujudan kehadiran negara dalam menjamin keadilan sosial dan pendidikan untuk semua.
Kisah inspiratif datang dari Siti Kalimah, seorang petani dari Banjarejo yang anaknya, Irham Maulana, kini resmi menjadi siswa Sekolah Rakyat. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa syukurnya kepada pemerintah.
"Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, saya tidak mampu membiayai sekolah anak saya, tapi kini saya punya harapan bahwa pendidikan bisa mengubah nasib keluarga kami," ucapnya.
Irham, alumni SMPN 5 Blora, sempat ragu saat pertama kali masuk asrama. Namun keraguan itu lenyap ketika ia merasakan kebersamaan dan kenyamanan di lingkungan barunya.
“Saya sempat takut dibully, tapi ternyata teman-teman semua baik. Saya ingin jadi polisi agar bisa membanggakan orang tua,” katanya.
Tak hanya Irham, Nuril—siswi lainnya—juga merasakan hal yang sama. Ia senang bisa bertemu teman-teman dari berbagai daerah dan merasa diterima.
“Kami sering cerita dan curhat bareng di malam hari. Gurunya juga baik semua,” katanya sambil tersenyum.
Kepala Sekolah SRMA 18, Tri Yuli S, menjelaskan bahwa proses pembelajaran telah dimulai sejak 14 Juli 2025. Fasilitas di sekolah ini sangat lengkap, mulai dari ruang kelas, laboratorium, hingga asrama yang nyaman. Gedung utama terdiri dari dua lantai dengan asrama putra-putri di lantai bawah, ruang belajar di atas, serta berbagai sarana penunjang lainnya seperti koperasi, mushola, lapangan, dan perpustakaan.
Turut hadir jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Camat, perwakilan Kementerian Sosial RI, Pemprov Jawa Tengah, hingga para orang tua siswa. (andiZ)