KABAR DAERAH
Istimewa
Muba-Mediaindonesianews.com: Sejumlah pihak menuding, Pembangunan gedung jurusan pertanian dan gedung Praktek di SMK Negeri 1 Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan adalah proyek siluman. Pasalnya, pembangunan yang sejak dimulai hingga selesai 100 persen itu terkesan tidak jelas siapa pelaksananya, berapa jumlah dana yang dikeluarkan dan berapa lama massa pelaksanannya.
"Pembangunan Gedung di SMKN 1 Babat Toman ini terkesan sangat tertutup. Masyarakat tidak tahu, apakah ini proyek dikerjakan kontraktor, atau swakelolah pihak sekolah sendiri, termasuk biaya yang dikeluarkan dan masa pelaksanaannya juga tidak tahu, karena memang tidak ditemukan sama sekali papan informasi proyek di lokasi pembangunan," kata Ketua LSM Kemilau Cahaya Bangsa Indonesia (KCBI) A. Nasution didampingi wakil Ketua Bidang Pembangunan Boby kepada wartawan, Senin (4/12).
Lebih lanjut A. Nasution mengungkapkan bahwa berdasarkan investigasi tim KCBI pihaknya menemukan adanya ketidak beresan dalam teknis pelaksanaan pembangunan gedung jurusan pertanian di SMKN 1 Babat Toman itu karena diduga pembangunannya dikerjakan asal jadi saja dan tidak sesuai dengan RAB yang ada.
"Sebagai lembaga sosial masyarakat kami memiliki fungsi kontrol terhadap pembangunan yang dibiayai oleh negara. Dalam hal pembangunan di SMK N 1 Babat Toman ini kami menemukan adanya ketidak sesuaian dalam pekerjaan pemasangan atap rangka baja, alias dikerjakan asal jadi saja," katanya.
A. Nasution juga menyoroti saat pekerjaan pembangunan berlangsung tidak adanya pemasangan papan nama proyek yang berisi tentang informasi yang memuat nama proyek, jumlah dana proyek, pihak pelaksana dan waktu pelaksanaan.
"Berdasarkan aturan setiap proyek yang dibiayai negara, harus memasang papan proyek. Hal ini harus dilakukan karena di era keterbukaan informasi saat ini setiap kegiatan yang dibiayai pemerintah harus terbuka, sehingga masyarakat bisa ikut mengawasi jalannya pembangunan. Kalau ada papan nama proyek, masyarakat tentunya bisa mengetahui, berapa jumlah dana, siapa pelaksananya dan berapa lama masa pelaksanaanya dan sumber dananya. Tapi ini pihak pelaksana tidak memasang papan nama proyek, sehingga patut diduga ini sengaja dilakukan untuk mengelabuhi masyarakat," paparnya.
Tak hanya itu, A. Nasution juga menyoroti adanya dugaan pungli di SMKN 1 Babat Toman pada tahun ajaran 2022 -2023 sebesar Rp380 000 ,- per murid dan berlanjut ditahun ajaran 2023 -2024 juga mengumpulkan Rp350 000,- dengan alasan untuk biaya magang yang dikumpulkan ke oknum guru.
"Kami mendapat laporan dari sejumlah siswa yang masih sekolah di sana, menyebut, bahwa mereka sudah sejak dua tahun terakhir ini dipungut biaya sebesar Rp350.000,- ditambah biaya penebusan sertifikat komputer sebesar Rp50 ribu per siswa. Tapi anehnya, sampai saat ini sertifikat tidak kunjung diterima siswa," katanya.
Atas temuan hasil investigasi tersebut A. Nasution mengaku dalam waktu dekat pihaknya akan melayangkan laporan resmi kepada aparat penegak hukum dan pihak pihak yang berkompeten di bidangnya.
"Masalah ini akan kami laporkan kepada, kementerian Pendidikan Cq. Dirjen Diknas, Dinas Pendidikan propinsi Sumsel, Inspektorat Propinsi Sumsel dan kepada aparat penegak hukum. Kita ingin pendidikan di bumi serasan Sekate ini tidak dikotori oleh praktek-praktek korupsi dan pungli yang tentunya merugikan masyarakat. Karena itu, kita akan mendesak pihak Tipikor Polres Musi Banyuasin dan pihak Kejaksaan Negeri Sekayu agar mengusut masalah ini sampai tuntas," pungkasnya. (Hadi)