FOKUS
istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Ketika nama Kintamani disebut, Pura Ulun Danu Batur mungkin menjadi destinasi pertama yang terlintas di benak. Namun, tahukah Anda bahwa di kaki Gunung Batur, tersembunyi sebuah pura tua yang sarat sejarah dan spiritualitas? Pura Bukit Mentik, yang terletak di Desa Adat Batur, Kintamani, adalah salah satu permata tersembunyi tersebut.
Berada di kawasan Tukad Miung, Pura Bukit Mentik menawarkan pengalaman spiritual yang berbeda. Akses menuju pura ini memang tidak mudah. Dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Denpasar, dilanjutkan dengan perjalanan menantang melewati jalur curam, berpasir, dan minim penerangan. Namun, justru di balik tantangan itulah, tersimpan kedamaian dan kekuatan spiritual yang diyakini luar biasa oleh umat.
Jero Penyarikan Pura Bukit Mentik, Jero Ardiyasa, mengungkapkan bahwa pura ini telah ada jauh sebelum Pura Batur dipindahkan ke lokasi saat ini akibat letusan Gunung Batur. Pura Bukit Mentik tetap berdiri kokoh di kawasan bawah karena lokasinya yang terhubung dengan rangkaian pura lainnya, seperti Pura Jati, Pura Prapen, Pura Mas Mampeh, dan Pura Taman Sari.
Pura Bukit Mentik terdiri dari tiga mandala dengan struktur yang khas. Di nista mandala terdapat wantilan, di jaba tengah berdiri Sanggar Tiga sebagai stana Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, serta meru tiga pengayatan Ida Bhatara Kentel Bumi. Di utama mandala, berstana Ratu Ayu Panca Kerti, yang diyakini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.
Pujawali di Pura Bukit Mentik dilaksanakan lima kali dalam setahun, dengan piodalan utama pada Purnama Kapat yang dirangkai dengan Ida Bhatara Tedun Kabeh. Piodalan utama ini berlangsung selama lima hari, menandakan betapa sakralnya pura ini.
Banyak umat yang datang ke Pura Bukit Mentik dengan ketulusan hati. Mereka datang untuk mencari ketenangan, memohon petunjuk, dan mengungkapkan rasa syukur. Dana punia dan yadnya yang dihaturkan pun bukan sebagai ajang pamer, melainkan sebagai wujud ketulusan hati. Prajuru pura bahkan lebih menganjurkan persembahan berupa benda, sebagai simbol ketulusan tersebut.
Hingga saat ini, Pura Bukit Mentik dijaga dengan sistem makemit 24 jam oleh krama desa secara bergiliran. Tradisi ini menunjukkan bahwa Pura Bukit Mentik bukan hanya sebuah situs suci, tetapi juga pusat spiritual yang hidup dan terus dijaga kelestariannya.
Mengunjungi Pura Bukit Mentik adalah sebuah perjalanan spiritual yang menantang namun penuh makna. Pura ini mengajarkan bahwa kesucian tidak selalu berada di tempat yang mudah dijangkau, dan ketulusan seringkali diuji melalui perjalanan yang tidak ringan.(JroBudi)