BREAKING NEWS
Istimewa
Bangli-Mediaindonesianews.com: Proyek lanjutan pembangunan Sasana Budaya Giri Kusuma Bangli yang digadang-gadang menjadi ikon pelestarian seni dan budaya di Kabupaten Bangli kini menuai sorotan. Meski telah menghabiskan anggaran miliaran rupiah sejak 2023, kondisi bangunan justru memprihatinkan. Fasilitas rusak, area tak terurus, dan kegiatan kebudayaan yang sempat hidup di tempat itu kini nyaris berhenti total.
Sasana Budaya Giri Kusuma yang terletak di Desa Cempaga, Bangli, dibangun untuk mewadahi kegiatan seni, pertunjukan budaya, dan pertemuan masyarakat. Namun, bangunan yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah kini terlihat kusam dan terbengkalai. Pantauan di lapangan menunjukkan atap bangunan bocor, dinding retak, kelistrikan rusak, tribun panggung terbuka belum rampung, serta taman dipenuhi rumput liar.
“Sayang sekali, tempat ini dulu ramai dengan pementasan seni dan upacara adat. Sekarang malah seperti ditinggalkan. Pemerintah harusnya turun tangan,” ujar I Wayan Sugiana, warga Bangli, Minggu (2/11).
Wayan menilai proyek ini tidak mencerminkan nilai investasi yang besar seperti tertuang dalam APBD.
“Dana miliaran sudah digelontorkan, tapi hasilnya seperti bangunan tak selesai. Kami menduga ada yang tidak beres,” katanya.
Berdasarkan dokumen proyek, lanjutan pembangunan Sasana Budaya Bangli semula direncanakan rampung melalui dua tahap. Tahun 2023, proyek tersebut menelan anggaran Rp3,91 miliar dan dimenangkan oleh CV Nandini asal Gianyar. Tahun berikutnya, pada 2024, proyek lanjutan dengan nilai HPS Rp4,85 miliar kembali dilelang dan dimenangkan oleh PT Sida Dadi Prekanti asal Denpasar dengan nilai kontrak terkoreksi Rp4,21 miliar.
Lingkup pekerjaan mencakup penyelesaian tribun panggung terbuka, pembangunan gapura, ruang penunjang, serta instalasi mekanikal dan elektrikal. Namun hingga kini, hasilnya belum optimal, bahkan sebagian fasilitas tidak dapat digunakan.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bangli, Dewa Agung Putra Suryadarma, S.Sos., MM, mengakui belum ada kegiatan lanjutan di tahun 2025.
“Tahun ini memang tidak ada kegiatan. Tahun depan sudah kita ajukan kelanjutan. Saya baru masuk 10 Juli 2025, jadi program lanjutan kita rencanakan untuk tahun 2026,” ujarnya.
Minimnya perawatan pasca-pembangunan membuat bangunan yang seharusnya berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya ini justru tampak terbengkalai. Sejumlah seniman dan tokoh masyarakat mendesak agar pemerintah segera melakukan revitalisasi dan memastikan keberlanjutan proyek agar tidak menjadi monumen mangkrak yang menghabiskan anggaran tanpa manfaat bagi masyarakat.
Masyarakat berharap Pemkab Bangli dapat menaruh perhatian serius terhadap aset budaya daerah tersebut, agar Sasana Budaya Giri Kusuma kembali hidup sebagai ruang ekspresi seni dan kebanggaan masyarakat Bangli. (JroBudi)