MEDIA INDONESIA NEWS
Opini
Olah Raga
Hiburan
Media Indonesia News Pilar Negara Dalam Mencegah dan Memberantas Korupsi, Sinergis Bersama Penegak Hukum

BREAKING NEWS

23 Juli 2025,    18:20 WIB

Krisis Minat Sekolah Negeri, SMAN 1 Marga Hanya Dapat 43 Siswa Baru


Jro Budi

Krisis Minat Sekolah Negeri, SMAN 1 Marga Hanya Dapat 43 Siswa Baru

Kepala SMA Negeri 1 Marga, I Wayan Dedi Armana, saat memantau pelaksanaan MPLS bagi 43 siswa baru tahun ajaran 2025/2026. (Foto: ist)

Tabanan-Mediaindonesianews.com: Fenomena mengejutkan kembali terjadi di dunia pendidikan daerah. SMAN 1 Marga, salah satu sekolah negeri di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, hanya berhasil menjaring 43 siswa baru dari total kuota 432 pada tahun ajaran 2025/2026. Jumlah ini jauh di bawah potensi lokal, mengingat terdapat lebih dari 650 lulusan SMP setiap tahunnya di wilayah tersebut.

Kepala SMAN 1 Marga, I Wayan Dedi Armana, mengungkapkan bahwa situasi ini bukan hal baru. Tahun lalu, sekolahnya hanya menerima 33 siswa baru. Meski sempat ada 64 calon siswa yang lolos seleksi tahun ini, hanya 43 yang melakukan daftar ulang dan hadir saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai.

“Masih seperti tahun lalu. Hanya beda angka saja,” kata Dedi lirih saat ditemui di ruang guru. Ia mengaku prihatin dan menyebut fenomena ini sebagai refleksi pergeseran pilihan pendidikan siswa dan orang tua.

Menurut Dedi, banyak lulusan SMP di Marga lebih memilih melanjutkan pendidikan ke SMK atau ke SMA favorit di pusat kota. Alasannya beragam, mulai dari persepsi tentang fasilitas yang lebih lengkap, peluang kerja lebih tinggi di SMK, hingga faktor gengsi.

“SMK di Tabanan penuh semua. Satu rombongan belajar maksimal 36 siswa. Mereka berebut masuk karena dianggap lebih menjanjikan secara keterampilan,” jelasnya.

Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah sekolah negeri lain di kawasan pinggiran Tabanan diantaranya SMAN 1 Baturiti: 95 siswa baru. SMAN 1 Penebel: 98 siswa dan SMAN 1 Kerambitan: 75 siswa

Hanya beberapa sekolah seperti SMAN 1 Tabanan, SMAN 2 Tabanan, dan SMAN 1 Kediri yang berhasil memenuhi kuota. Sementara sekolah di kawasan lebih terpencil seperti Pupuan dan Selemadeg relatif stabil karena minimnya alternatif pilihan sekolah lain.

Dedi menegaskan, pihaknya tetap membuka kemungkinan menerima siswa pada gelombang akhir, termasuk mereka yang belum mendapat sekolah meskipun MPLS telah selesai.

Namun ia menyadari bahwa solusi jangka panjang tidak hanya bergantung pada sistem zonasi atau kuota, tetapi pada transformasi citra dan kualitas pendidikan sekolah daerah.

“Sekolah perlu punya program unggulan yang relevan dengan potensi lokal, seperti pertanian digital, UMKM, atau inkubator wirausaha muda,” ujar Dedi.

Pengamat pendidikan di Tabanan juga menyatakan bahwa krisis minat ini berakar dari masalah persepsi dan kurangnya inovasi lokal, bukan semata karena lokasi atau fasilitas fisik. Jika tidak segera diatasi, kursi-kursi kosong di sekolah negeri pinggiran akan terus menjadi simbol ketimpangan dan kegagalan sistem zonasi pendidikan.