BREAKING NEWS
Istimewa
Bangli-Mediaindonesianesianews.com: Br. Pande Cempaga, Bangli, baru saja menyelenggarakan upacara Ngerorasin, sebuah ritual sakral dalam kepercayaan Hindu yang dilakukan dua belas hari setelah Ngaben. Upacara ini merupakan bagian penting dari rangkaian Pitra Yadnya, dimana atma (jiwa) diyakini dibebaskan dari ikatan suksma sarira (tubuh halus) yang masih mengikatnya setelah proses kremasi, Sabtu (12/7)
Sang Guru Mangku di Br. Pande Cempaga menjelaskan bahwa nama "Ngeroras" berasal dari kata "roras" yang berarti dua belas, hal itu menunjukkan waktu pelaksanaan ritual ini.
"Lebih dari sekadar ritual, Ngerorasin merupakan penghormatan mendalam terhadap leluhur dan proses pengembalian manusia kepada Sang Pencipta." Katanya
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Upacara ini juga dimaksudkan untuk membersihkan keluarga yang ditinggalkan, rumah dan perlengkapan yang digunakan dalam prosesi Ngaben dari "cuntaka" atau kekotoran secara agama.
"Karena tidak ada jenazah yang dihadirkan upacara menggunakan simbol-simbol suksma sarira sebagai representasi tubuh halus atma." Jelasnya.
Menurutnya pelaksanaan Ngerorasin disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga (yajamana) dengan mempertimbangkan aspek finansial, waktu dan pemahaman budaya lokal. Meskipun ada perbedaan dalam pelaksanaan di berbagai tempat namun esensi ritual ini tetap sama yakni pelepasan atma menuju moksa (pembebasan).
"Perbedaan ini dianggap positif karena dalam agama Hindu, berbagai cara diperbolehkan asalkan dapat mencapai kepuasan batin (atmanastuti)." Pungkasnya
Seperti diketahui Ngerorasin melengkapi Ngaben, jika Ngaben bertujuan melepaskan atma dari ikatan Panca Maha Bhuta (lima unsur utama), Ngerorasin membebaskan atma dari ikatan suksma sarira, dengan pedoman dari Lontar